Oleh : DR. H. Soetrisno Hadi, SH, MM, M.Si

Di tengah kegandrungan sebagian kita untuk memperoleh kemuliaan malam raya Laylat al-Qadr dengan beragam ibadah. Ada hal yang tidak boleh dilupakan bahwa Islam sangat mengedepankan keseimbangan (equillibrium) antara membangun hubungan yang baik dengan Allah atau habl min Allah dengan membangun hidup dalam kedamaian dengan sesama makhluk ciptaan Allah SWT (habl min an-nas). Keduanya berjalan secara simultan, ibadah dan mu'amalah. Lihat saja bagaimana keduanya dibangun dengan serasi dalam Qs. al-Jumu'ah (62): 10. Meski demikian, dalam Islam juga tidak dikehendaki ada orang yang menumpuk-numpuk harta tanpa peduli pada kesusahan orang lain. Bahkan, dalam realitanya ada kecenderungan flexing atau pamer harta seperti tampak di media sosial. Rezeki yang dikaruniakan Allah SWT pada kita (Qs. al-Baqarah [2]: 3) seyogyanya beredar pada banyak anggota masyarakat lain yang memerlukan. Tidak boleh berputar di tangan sekelompok orang tertentu yang dilebihkan hartanya/kay la yakuuna duulatan bayn al-aghniya minkum (Qs. al-Hasyr [59]: 7). Karenanya, di samping kita beribadah juga dikehendaki agar mau berbagi dengan sedekah. Ada yang wajib yaitu zakat, ada pula yang sunnah. Rasulullah, saw tidak hanya menyampaikan ayat tetapi juga mempraktikkan langsung di tengah masyarakat. Dalam hadits Bukhari dan Muslim diriwayatkan bahwa Rasulullah, saw di bulan Ramadhan lebih pemurah dibandingkan di bulan lainnya. Karenanya, sedekah yang afdhal/utama justru bila dilakukan di bulan Ramadhan (HR.Turmudzi). Apa yang diteladani dan disabdakan Rasulullah, saw adalah sangat tepat dan bijaksana. Karena, di bulan Ramadhan secara kultural orang akan bersiap menghadapi lebaran yang memang memerlukan banyak tambahan keperluan hidup sehari-hari. Dengan berzakat, sadaqah wajibah, maka harta kita akan bersih dari kepemilikan orang lain seperti faqir, miskin dan lainnya. Sekaligus, mensucikan hati dan jiwa dari sifat-sifat tercela seperti rakus, tamak, loba, serakah, kikir dan lainnya. Bila keduanya kita lakukan secara simultan, beribadah dan bersedekah, bisa dipastikan hidup ini akan menjadi begitu indah dan berkah. Allah SWT mencintai orang-orang yang bersih lahir dan suci batin (Qs. al-Baqarah [2]: 222). Semoga Allah SWT menjadikan kita orang yang dicintai-Nya. (*)